Kamis, 26 November 2009
Suami Isteri Menonton Video Blue Untuk Belajar
Tidak wajib solat JUmaat apabila sudah solat raya
Solat Hari Raya Menggantikan Solat Jumaat
Dalil yang menunjukkan wajibnya ialah solat Hari Raya dapat menggugurkan kewajipan solat Jumaat apabila Hari Raya jatuh pada Jumaat. Nabi sallallahu ‘alihi wa-sallam bersabda:
“Telah berkumpul pada hari kamu ini dua hari Raya. Sesiapa telah (Bersolat Hari Raya), dia telah menyempurnakan dari solat Jumaat dan sesungguhnya kita telah dikumpulkan”.
(H/R Abu Daud 1073. Ibnu Majah 1311. Al-Hakim 1/228. Al-Baihaqi 3/318. Ibnul Abdil Barr (dalam At-Tauhid) 10/272. Al-Khatib (dalam Tarikh Bahgdad) 3/129. Ibnul Qaiyyim (dalam al-Wahiyat). 1/473. Al-Faryabi (dalam Ahkamul Iedain) 150. Ibnul Jarud (dalam Al-Muntaqa) 302. Hadis sahih banyak syahidnya (lihat: Sawathi’ al-Qamarain fi Takhrij Ahadis Ahkamail Iedain), Musaid bin Sulaiman bin Rasyid. Hlm. 211)
(Lihat: Nailul Autar 3/382-383)
Baginda menggandingkan perintahnya kepada manusia dengan terus menerus ini agar mereka keluar ke tanah lapang (musalla) untuk solat Hari Raya.
(Lihat: (1). Nailul Autar. 3/282-283. (2). Majmu fatawa. 24/212. dan 23/161. (3). Ar-Raudah an-Nadiyah 1/142. (4). Tamamul Minnah, hlm. 344)
Seterusnya, pandangan akan wajibnya solat Aidil Fitri ini diperkuatkan lagi dengan hakikat bahawa solat Aidil Fitri ini dapat menggugurkan kewajipan solat Jumaat jika keduanya terjadi pada hari yang sama (Hari raya jatuh pada hari Jumaat). Hanya sesuatu yang wajib dapat mengugurkan kewajipan yang lain.
– Inilah pendapat Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah di dalam Terjemah Tamamul Minnah Koreksi dan Komentar Ilmiah Terhadap Kitab Fiqhus Sunnah Karya Syaikh Sayyid Sabiq, (edisi terjemahan oleh Afifuddin Said, Maktabah Salafy Press, Gajah Mada 2002) jilid 2, ms. 103.
Dalil yang menunjukkan kewajipan solat Jumaat gugur sekiranya ianya serentak dengan hari Aidil Fitri adalah:
Dari Iyas bin Abi Ramlah al-Syami, dia berkata: “Aku pernah menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam. Dia bertanya: “Apakah engkau menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri dua Hari Raya (hari `Ied dan hari Jumaat) yang berkumpul dalam satu hari?” Dia menjawab: “Ya.” Mu’awiyah bertanya: “Lalu apa yang baginda kerjakan?” Dia menjawab: “Baginda mengerjakan solat Aidil Fitri, kemudian baginda memberikan keringanan dalam hal (mengerjakan) solat Jumaat dan bersabda: “Barangsiapa yang ingin solat (Jumaat) maka hendaklah dia solat.”
(Hadis riwayat Imam Abu Dawud di dalam Sunan Abu Daud, Kitab al-Sholah, hadis no: 904)
Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa (jilid 23, ms. 161) berkata:… oleh kerana itu, kami mentarjih (menguatkan) bahawa solat Aidil Fitri itu wajib bagi setiap individu muslim, sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan lain-lainnya. Dan ini merupakan salah satu pendapat al-Syafi’i, dan ia merupakan salah satu dari dua pendapat di dalam mazhab Ahmad.
Hukum-hukum dalam merayakan Iedhul Adha
Akhi Muslim…….
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah mempertemukan kita kepada hari yang agung ini dan memanjangkan umur kita sehingga dapat menyaksikan hari dan bulan berlalu dan mempersembahkan kepada kita perbuatan dan ucapan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.
Hari Raya qurban, termasuk kekhususan umat ini dan termasuk tanda-tanda agama yang tampak, juga termasuk syi’ar-syi’ar Islam, maka hendaknya kita menjaganya dan menghormatinya.
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (Al Hajj 32).
1. Takbir
Disyari’atkan bertakbir sejak terbit fajar pada hari Arafah hingga waktu Ashar hari tasyrik terakhir, yaitu pada tanggal tinggal belas Dzul Hijjah . Allah ta’ala berfirman:
Dan berzikirlah (dengan menyebut) dalam beberapa hari yang terbilang
(Al Baqarah 203)
Caranya dengan membaca:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
“ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala pujian “
Disunnahkan mengeraskan suaranya bagi orang laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah setelah melaksanakan shalat, sebagai pernyataan atas pengagungan kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan mensyukuri-Nya.
2. Menyembelih binatang korban.
Hal tersebut dilakukan setelah selesai shalat Id, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :
مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ [رواه البخاري ومسلم]
Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan hewan kurban yang lain, dan siapa yang belum menyembelih, maka hendaklah dia menyembelih (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Waktu menyembelih kurban adalah empat hari, hari raya dan tiga hari tasyrik, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda:
Semua hari tasyrik adalah (wak-tu) menyembelih (Lihat Silsilah Shahihah no. 2476)
3. Mandi dan mengenakan wewangian
Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur janggut karena hal tersebut haram hukumnya. Sedang-kan wanita disyari’atkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendak-lah seorang muslimah berhati-hati berang-kat dalam rangka ta’at kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepada-Nya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki.
4. Makan daging korban.
RasulullahShalallahu ‘alaihi wassalam tidak makan daging korban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya.
5. Pergi ke tempat shalat Id
Berjalan kaki jika memungkin-kan dan disunnahkan shalat Id di lapangan terbuka, kecuali jika terdapat uzur seperti hujan misalnya, maka pada saat itu sebaiknya shalat di masjid berdasarkan perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
6. Shalat bersama kaum muslimin dan mendengarkan khutbah.
Adapun yang dikuatkan oleh para ulama seperti Syekh Islam Ibnu Taimiyah bahwa shalat Id hukumnya wajib berdasarkan firman Allah ta’ala :
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
perbuatan tersebut tidak gugur kecuali dengan uzur syar’i. Adapun wanita tetap diperintahkan menghadiri shalat Id bersama kaum muslimin, bahkan sekalipun yang haid dan para budak dan bagi mereka yang haidh di jauhkan dari tempat shalat.
7. Menempuh jalan yang berbeda.
Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
8. Ucapan selamat
Tidak mengapa saling mengucapkan selamat seperti :
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal) kita
dan anda sekalian”.
Akhi muslim…..
Ada beberapa hal yang patut kita hindari saat hari raya :
1. Takbir secara berbarengan : Dengan satu suara atau mengikuti bersama-sama dibelakang seseorang yang bertakbir.
2. Lalai pada hari Id. Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan seperti mendengarkan lagu-lagu, menonton film, ikhtilath antar laki dan wanita yang bukan muhrim dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.
3. Mencabut rambut atau memotong kuku sebelum melaksanakan penyembelihan korban, karena ada larangan Nabi dalam masalah ini.
4. Berlebih-lebihan atas sesuatu yang tidak perlu dan berfaedah berdasar-kan firman Allah ta’ala:
Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan “ (Al A’raf 31)
Akhirulkalam …
Janganlah anda lupa wahai akhi muslim untuk selalu berupaya mendapatkan kebaikan seperti bersilatur-rahim, berkunjung kepada sanak saudara, meninggalkan permusuhan, kedengkian serta mensucikan hati dan penuh kasih kepada fakir miskin serta anak yatim serta membantu mereka dan mendatangkan kegembiraan kepada mereka.
Kita mohon kepada Allah agar memberi kita taufiq-Nya atas apa yang Dia cintai dan ridhoi.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
(Dinukil dari فضل عشر ذي الحجة أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك , Edisi Indonesia "Keutamaan sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah & Hukum berkurban dan ‘Iedhul Adha yang berbarakah". Seksi Terjemah Kantor Sosial, Dakwah & Penyuluhan Bagi Pendatang, Pemerintah Saudi Arabia)
Jumat, 20 November 2009
Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan
Sebuah renungan di bulan Suci Ramadhan : Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan.
Stigma Islam Sebagai agama teroris yang berkembang ditengah masyarakat apalagi pasca Ledakan Bom di Mega Kuningan dan tertangkapnya atau tertembaknya para pelaku kembali menguat, ini jelas perlu diluruskan`. Karena pada prinsipnya Islam sebagai agama yang mengajarkan kasih sayang, penuh cinta kasih, damai dan lemah lembut , Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan .
Allah telah menciptakan manusia dan alam semesta termasuk isinya dengan beraneka ragam, manusia ada laki dan perempuan, ada yang berkulit putih, hitam , sawo matang dsb, begitu juga mahluk lainnya seperti tumbuhan, hewan, batuan, dsb, berarti kemajemukan ini sudah merupakan sunatullah . Untuk itu seyogyanya seluruh umat Islam harus menghargainya ?.
Senada dengan hal diatas Guru besar STAIN Cirebon Prof,DR.H.Abdullah Ali MA dalam kolom Percikan Radar Cirebon 17 Pebruari 2006 mengatakan : “ Umat islam di Indonesia seharusnya memahami kemajemukan, dan merupakan sunatullah ( hukum alam). Karena Allah menciptakan manusia dan alam semesta dengan segala isinya dengan bervariasi, beraneka ragam, kemajemukan sebenarnya sangat dihargai dalam ajaran Islam . Karena Islam sebagai agama Allah yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Salah satu fitrah itu adalah kemajemukan yang hakekatnya bersumber dari ajaran Islam “ ungkapnya.
Mantan ketua ICMI Orsat Cirebon ini menjelaskan. Agama hendaknya berfungsi sebagai media intergrasi ditengah kemajemukan masyarakat serta pluralisme paham, golongan, sekte dan mazhab. Melalui pendekatan konflik ideologi secara fungsional. Setiap umat beragama termasuk umat Islam mestinya dapat mengendalikan egoisme pendapat dan fanatisme golongan. Karena belum tentu pendapat atau ideologi yang dipertahankan adalah suatu kebenaran yang mutlak. Dengan keyakinan bahwa mutlak benar hanya Allah, manusia hanya penafsir berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.
“ Hakekat agama sebenarnya sebagai jalan hidup menuju keselamatan dan kebahagiaan, memberikan peluang terbuka kepada masyarakat untuk hidup dalam kemajemukan. Bahkan kalaupun ada konflik karena perbedaan, pada dasarnya bisa dipertemukan secara fungsional untuk saling mengisi dan melengkapi. “ Jelasnya.
Semua yang dipaparkan diatas hanya sebagai renungan saja, saya tak berani mengambil kesimpulan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Yang jelas sekarang ini kita sedang berada di bulan suci Ramadhan, saya hanya berani menyampaikan… mari kita laksanakan ibadah puasa ini dengan penuh hidmat, penuh ketaqwaan dan keikhlasan. Kita yakini bahwa Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah - Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam dan diajarkan dengan ahlak mulia tanpa kekerasan . Dengan demikian jelas bahwa Islam Tidak Mengajarkan Kekerasan .

